Sabtu, 10 September 2011

Ayo Menabung! Ajari Anak menabung Sedini Mungkin.


"Bing beng bang, yuk kita ke bank. Bang bing bung, yuk kita nabung. Tang ting tung, hei jangan dihitung, tahu-tahu kita nanti dapat untung."
-- Geofanny, Saskia, dan Titiek Puspa dalam 'Menabung'

ANTO pusing setengah mati. Yunita, anaknya yang paling besar naik kelas dengan nilai yang memuaskan. Rankingnya pun dahsyat. Numero uno di sekolahnya. Tapi Anto tetap saja pusing. Keringat sebesar jagung meluncur di mukanya. Aneh benar. Anak pintar kok malah pusing.

Bukan kepintaran sang anak yang bikin pusing, melainkan karena ditagih janji. Saat memulai tahun ajaran baru, dia memang menantang anaknya agar giat belajar. Janjinya: dia akan membelikan sepeda, persis seperti yang dimiliki Sigit, tetangga mereka yang memang serba berkecukupan.

Anto yang hanyalah pegawai biasa di satu perusahaan, mengaku tak punya lagi uang. Seluruh penghasilannya, memang selalu tandas jauh sebelum tanggal di kalender bergerak jauh. "Bayar cicilan motor, tagihan listrik, dan rumah adalah pengeluaran terbesar," katanya masygul. Alhasil, tak ada jalan keluar, kecuali ngebon di kantor.

Semestinya hal itu memang tidak terjadi andai saja dia memiliki tabungan. Tapi, ya itu tadi, jangankan menabung, pengeluaran di masa sekarang, seperti air bah yang mengalir. Sedangkan pemasukan, sami mawon, tak berubah.

Di lain pihak, banyak produk keuangan yang menawarkan kemudahan untuk meminjam uang. Kartu kredit misalnya. Dia dapat menanggulangi kebutuhan mendesak di saat sulit. Atau juga pegadaian, yang kini muncul hampir di tiap sudut. Mereka menawarkan solusi kesulitan keuangan.

Hal ini menyiratkan bahwa menabung sepertinya sesuatu hal yang sulit. Alhasil, `Ayo menabung' boleh jadi hanya jadi slogan kosong. Namun, bukan berarti hal itu menabrak tembok. Kalaulah orang tua sulit untuk menabung, mengajarkan anak paling tidak bisa dilakukan.

MENGAJARKAN ANAK MENABUNG

Sedini mungkin sebaiknya memang kita mengajarkan menabung pada anak. Untuk setiap usia anak, mungkin berbeda cara mendidiknya. Bagi anak yang masih belum bersekolah atau masih di TK, kita dapat mengajarkan kepadanya bahwa tidak semua barang yang diinginkannya dapat dibeli. Misalnya saja, bila sang anak dibelikan mainan, maka ia tak dapat membeli es krim kesukaannya. Tak semua yang diinginkan sang anak harus pula dipenuhi. Misalnya saja ketika ia menginginkan telepon selular setelah melihat temannya memakai barang tersebut. Dapat dikatakan padanya, bahwa belum waktunya ia mendapatkan barang tersebut. Pada anak usia ini, kita dapat mengajarkannya untuk mengenal dan memegang uang. Sang anak, misalnya, dapat diajarkan untuk membayar langsung di kasir.

Bagaimana untuk anak yang bersekolah di SD? Pada usia ini, sang anak dapat diberikan uang untuk jajan dan secara bersamaan juga uang untuk menabung. Disini kita dapat mengenalkan celengan hingga konsep menabung di bank. Anak dapat diajarkan bagaimana caranya menabung dan manfaat apa yang bisa dipetik darinya. Bila sang anak menginginkan sesuatu yang diinginkannya, misalnya mainan yang disukainya, ajarkan bagaimana caranya mendapatkan mainan tersebut dengan menabung di celengan. Bila uangnya telah cukup, ia dapat membeli mainan kesukaannya. Hal ini mengajarkan kepada anak betapa pentingnya menabung. Jangan berhenti menabung bila barang yang diinginkannya telah didapat. Seiring berjalannya waktu ketika uang yang ada di dalam celengan terisi penuh, Anda dapat mengantarkannya ke bank untuk menabung.

Sedangkan untuk mereka yang telah menginjak remaja, kita dapat mengajarkan mengenai tabungan yang berbentuk investasi. Misalnya, deposito, logam mulia, atau investasi lainnya. Untuk anak perempuan, kita mungkin dapat mengajarkannya untuk membeli emas atau kalung.

Anak yang tak biasa menabung, cenderung menghabiskan uang yang diberikan kepadanya. Apalagi bila orangtua hampir selalu mengabulkan permintaan sang anak. Orangtua dapat menjelaskan kepadanya, bahwa uang yang dihabiskan untuk jajan, maka tak ada yang bisa ditabungnya. Dan itu berarti ia tak dapat memiliki barang yang diinginkannya.

Orangtua yang bijak tentu saja juga melakukan hal yang sama. Tak mungkin mengajari anak menabung tapi orangtuanya sendiri tidak melakukannya. Mengajarkan menabung pada anak tak semata melalui buku tabungan atau celengan, tapi bisa dengan cara lain. Misalnya saja, ketika akhir pekan tiba. Kita dapat membiasakan untuk tidak makan di luar, walau kita mampu melakukan itu. Atau dalam pergi berakhir pekan, kita membawa bekal makan siang. Tentu saja masih banyak cara lain dalam mengajarkan anak untuk menabung. Jadi jangan lupa, sisihkan uang untuk menabung. Ayo menabung!

Source : http://anaqita.blogspot.com
Under : Artikel Pendidikan Anak

Selasa, 16 Agustus 2011

KENALI SINUSITIS PADA ANAK


Sinus adalah rongga yang berisi udara di kepala sekitar hidung dan dilapisi selaput lendir pernafasan yang berhubungan dengan selaput lendir rongga hidung. Ada 4 pasang rongga sinus, yaitu sepasang didaerah pipi, dipangkal hidung, didahi dan sepasang di belakang atas rongga hidung. Apabila sinus teriritasi atau infeksi, maka selaput lender sinus akan membengkak. Infeksi pada rongga sinus inilah yang disebut sebagai sinusitis.
Sinusitis pada anak diakibatkan karena besarnya tingkat polusi udara, terutama di kota besar. Faktor2 lain penyebab sinusitis antara lain :

1. Penggunaan AC
AC sudah menjadi barang primer yang digunakan di kota2 besar. Rumah, kantor, sekolah dan mobil semua sudah difasilitasi dengan AC. Ini menyebabkan adanya perubahan udara yang dramatis. Anak cenderung melakukan aktivitas di alam terbuka dengan suhu panas, dan ketika kembali masuk ruangan berAC terjadi perubahan drastic suhu udara. Anak dengan kondisi normal kemampuan hidung untuk beradaptasi dapat lebih baik, tapi pada anak yang mempunyai bakat alergi perubahan suhu drastic bisa menimbulkan masalah.

2. Alergi
Anak yang mempunyai bakat genetik alergi sangan rentan untuk mengidap alergi, misal : asma, termasuk sinusitis. Bila anak bisa dijauhkan dari hal-hal pencetus – debu, asap, polusi,udara dingin – kemungkinan terkena alergi bisa dicegah.

3. Berenang saat kondisi pilek
Perubahan tekanan dalam air dapat menjadi salah satu pemicu sinusitis.

4. Gangguan fisik
Anak yang terlalu cape dan kurang tidur, maka daya tahan tubuhnya akan menurun. Ditambah bersinggungan dengan faktor pemicu – polusi, AC, dll – maka akan mempermudah terkena sinusitis.

5. Kelainan anatomi hidung
Kelainan dalam organ hidung juga menjadi masalah karena mengganggu saluran hidung dan sinus. Jika ada sinusitis akan sulit sembuh karena proses pengeluaran lendir akan jadi sulit .

KENALI GEJALA SINUSITIS


Pengobatan dilakukan sesuai dengan derajat infeksinya. Bila masih ringan, sinusitis dapat sembuh hanya dengan pemberian obat, tapi bila sudah parah maka harus dilakukan tindakan operasi sedang ( non-radikal), Istilah sederhananya dicuci untuk mengeluarkan lendir sekaligus membersihkan hidung.
Tindakan awal pengobatan biasanya dengan rontgen. Apabila hasilnya menunjukkan area sinus berwarna hitam, berarti kondisinya normal. Sebaliknya jika memperlihatkan warna putih pertanda ada infeksi.
Seperti apa gejala sinusitis tersebut :

1. Bila pilek tak kunjung sembuh
Kondisi ini sudah terjadi lebih dari 10 hari dan lendir yang keluar berwarna kehijauan dan berbau amis.

2. Kulit disekitar lubang hidung lecet
Ini disebabkan karena infeksi

3. Batuk
Anak pengidap sinusitis akan mengalami batuk yang hebat di malam hari atau menjelang pagi. Sementara di siang hari batuknya tidak sering

4. Suara sengau ( bindeng )


5. Nafsu makan berkurang
Selera makan otomatis akan terganggu. Ini bisa mengakibatkan kurangnya asupan nutrisi dalam menjaga daya tahan tubuh anak.
Kuncinya adalah bila anak sudah terdeteksi kena sinusitis segera mungkin lakukan pengobatan sampai tuntas, sehingga kemungkinan besar bisa sembuh total.



Selasa, 19 Juli 2011

MENYUSUI = EMANSIPASI WANITA


EMANSIPASI artinya adalah kemerdekaan atau pembebasan. Kata –kata ini sangat di elu-elukan oleh kaum perempuan di era sekarang, apalagi bila sudah masuk bulan april untuk memperingati Hari Kartini, tokoh emansipasi wanita. Buat sebagian orang “menyusui” adalah kegiatan yang memenjarakan aktivitasnya. Setelah melahirkan seorang ibu harus menyusui bayi nya, tidak bisa bepergian lama-lama dan meninggalkan bayi nya, menjaga asupan makanan dan minuman karena akan berpengaruh terhadap bayinya, kurang istirahat dan tidur pun tak pernah pulas karena selalu terusik tangis bayi, popok nya basah, bayi nya lapar , dll.

Perubahan yang terjadi dalam kehidupan dari seorang wanita single menjadi seorang ibu, pastinya menimbulkan sindrom tersendiri . perasaan “kebebasan” nya serasa terenggut begitu saja, hilang karena ada anak. Hal ini membutuhkan pemahaman dan pemikiran yang bijaksana, terutama dukungan dan pengertian dari keluarga apalagi suami sangat dibutuhkan.
Sebenarnya tidak ada seorangpun yang berhak memaksa seorang ibu untuk harus menyusui anaknya. Orang terdekat, suaminya sekalipun tidak boleh memaksa istrinya harus menyusui anaknya. Hanya kesadaran diri sendiri lah yang bisa menentukan mau atau tidak.
Sejak awal kehamilan tubuh ibu sudah mempersiapkan diri untuk menyusui. Serangkaian proses perubahan sudah terjadi pada payudaranya. Proses ini adalah persiapan payudara untuk menghasilkan air susu. Selama hamil, sel lemak payudara digantikan oleh jaringan kelenjar susu dan saluran susu (diameternya terus bertambah). Ini membuat payudara pun jadi membesar. Trimester kedua (usia 4 bulanan ) seluruh sistem produksi air susu dalam tubuh ibu mulai bekerja. Air susu sudah mulai diproduksi dan ditampung dalam jaringan penampung dibawah kalang payudara. Begitu bayi lahir lonjakan hormon prolaktin dalam tubuh ibu merangsang kelenjar air susu berproduksi sehingga mendesak payudara untuk mengeluarkan air susu. Ada 2 cara untuk mengeluarkan air susu secara alami, yaitu dengan menyusui langsung pada bayi atau dengan memerahnya dengan tangan.

Jika kita setuju bahwa salah satu wujud “ kemerdekaan tubuh“ itu adalah membiarkan nya berproses se alami mungkin, maka menyusui salah satu bagian dari proses “pemerdekaan tubuh “ tersebut bukan ? Menyusui adalah salah satu bentuk ‘ emansipasi fisik” para ibu, bahkan hormon prolaktin juga menumbuhkan perasaan keibuan (keinginan untuk menyusui), maka dari itu aktivitas menyusui bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk emansipasi pikiran dan perasaan ibu.

Nah ibu-ibu mari kita galakkan emansipasi perempuan yang satu ini…memberikan ASI…bisa kan !!!
 

Buku Tamu

anaQita Copyright © 2009 Community is Designed by Bie